Muslim Sejati: Menjaga Lisan dan Tangan
Materi Ceramah
Hadis Shahih Al-Bukhari
"Muslim Sejati: Menjaga Lisan dan Tangan"
(Kitab al-Īmān, Bab: المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده)
Mukadimah
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
Amma ba'du.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Islam bukan sekadar identitas atau pengakuan di lisan. Islam adalah agama yang tampak dalam akhlak, ucapan, dan perbuatan. Salah satu tanda kesempurnaan iman seorang muslim adalah ketika orang lain merasa aman dari gangguan dirinya. Rasulullah ﷺ menjelaskan hal ini dalam sebuah hadis yang sangat agung.
Hadis Pokok
Dari Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
Artinya:
"Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Dan seorang muhajir adalah orang yang meninggalkan apa saja yang dilarang Allah."
(HR. Al-Bukhari no. 10 dan Muslim no. 40)
Makna Hadis
Hadis ini menjelaskan dua ciri utama seorang mukmin:
- Menjaga hak-hak sesama manusia.
- Meninggalkan segala bentuk maksiat.
Iman yang benar akan melahirkan akhlak yang mulia.
Penjelasan Para Ulama
1. Imam Ibnu Hajar Al-'Asqalani
Beliau menjelaskan bahwa yang dimaksud "muslim" dalam hadis ini adalah muslim yang sempurna keislamannya, bukan sekadar orang yang telah mengucapkan syahadat.
Gangguan lisan didahulukan karena lebih sering terjadi dan dampaknya sangat besar.
Rujukan: Fatḥ al-Bārī, Jilid 1, penjelasan hadis no. 10.
2. Imam An-Nawawi
Beliau berkata:
"Hadis ini merupakan salah satu kaidah agung dalam Islam yang mencakup seluruh adab bermuamalah."
Rujukan: Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim.
3. Imam Al-Qadhi 'Iyadh
Beliau menjelaskan bahwa menjaga lisan dan tangan mencakup seluruh bentuk kezaliman, baik yang bersifat fisik, verbal, maupun tindakan yang merugikan orang lain.
Rujukan: Ikmāl al-Mu'lim.
Pertama: Menjaga Lisan
Lisan adalah nikmat yang sangat besar, tetapi juga menjadi sebab terbesar manusia masuk neraka jika tidak dijaga.
Allah Ta'ala berfirman:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
Artinya:
"Tidak ada satu kata pun yang diucapkannya melainkan di sisinya ada malaikat pengawas yang selalu siap mencatat."
(QS. Qāf: 18)
Tafsir
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa seluruh ucapan manusia, baik yang kecil maupun besar, dicatat oleh malaikat tanpa ada yang terlewat.
Rujukan: Tafsīr al-Qur'ān al-'Aẓīm.
Larangan Menggunjing
Allah berfirman:
وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ
Artinya:
"Janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kalian memakan daging saudaranya yang telah mati? Tentu kalian merasa jijik."
(QS. Al-Ḥujurāt: 12)
Tafsir
Imam Al-Qurthubi menyebut perumpamaan ini sebagai gambaran yang sangat keras untuk menunjukkan besarnya dosa ghibah.
Rujukan: Al-Jāmi' li Aḥkām al-Qur'ān.
Hadis tentang Menjaga Lisan
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya:
"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam."
(HR. Al-Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47)
Kedua: Menjaga Tangan
"Tangan" dalam hadis ini melambangkan seluruh bentuk tindakan yang menyakiti orang lain.
Allah berfirman:
وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا
Artinya:
"Orang-orang yang menyakiti kaum mukmin laki-laki dan perempuan tanpa kesalahan yang mereka perbuat, sungguh mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata."
(QS. Al-Aḥzāb: 58)
Menyakiti Sesama Muslim Termasuk Dosa Besar
Rasulullah ﷺ bersabda:
سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ
Artinya:
"Mencaci seorang muslim adalah kefasikan, sedangkan memeranginya merupakan dosa yang sangat besar."
(HR. Al-Bukhari no. 48 dan Muslim no. 64)
Ketiga: Hakikat Hijrah
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
Artinya:
"Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan segala yang dilarang Allah."
Hijrah bukan hanya berpindah tempat, tetapi berpindah dari maksiat menuju ketaatan.
Dalil Al-Qur'an Tentang Hijrah dari Dosa
Allah berfirman:
وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ
Artinya:
"Dan segala perbuatan dosa, tinggalkanlah."
(QS. Al-Muddatstsir: 5)
Allah juga berfirman:
فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ
Artinya:
"Maka larilah menuju Allah."
(QS. Adz-Dzāriyāt: 50)
Yakni meninggalkan syirik, dosa, dan maksiat menuju tauhid dan ketaatan.
Bahaya Lisan Menurut Hadis
Suatu hari Rasulullah ﷺ bertanya kepada Mu'adz bin Jabal رضي الله عنه:
وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ
Artinya:
"Bukankah yang paling banyak menyeret manusia ke dalam neraka adalah hasil ucapan lisan mereka?"
(HR. At-Tirmidzi no. 2616, dinilai hasan sahih)
Penjelasan
Imam Ibnu Rajab menjelaskan bahwa mayoritas dosa manusia berasal dari lisan: dusta, fitnah, ghibah, namimah, sumpah palsu, penghinaan, dan ucapan yang menyakiti.
Rujukan: Jāmi' al-'Ulūm wa al-Ḥikam.
Akhlak Rasulullah ﷺ
Allah berfirman:
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
Artinya:
"Sesungguhnya engkau benar-benar memiliki akhlak yang agung."
(QS. Al-Qalam: 4)
Rasulullah ﷺ tidak pernah membalas keburukan dengan keburukan, tetapi dengan kelembutan dan kasih sayang.
Ulasan Para Ulama
Imam Al-Ghazali
Lisan adalah cermin hati. Bila hati bersih, lisan pun akan bersih.
Rujukan: Iḥyā' 'Ulūm ad-Dīn, Kitāb Āfāt al-Lisān.
Ibnu Rajab Al-Hanbali
Hadis ini menggabungkan dua hak besar:
- Hak Allah dengan meninggalkan maksiat.
- Hak manusia dengan tidak mengganggu mereka.
Rujukan: Jāmi' al-'Ulūm wa al-Ḥikam.
Syaikh Abdurrahman As-Sa'di
Keimanan yang benar selalu melahirkan akhlak yang baik. Tidak mungkin seseorang mengaku beriman tetapi lisan dan tangannya terus menyakiti orang lain.
Rujukan: Bahjah Qulūb al-Abrār.
Hikmah yang Dapat Diambil
- Muslim sejati adalah yang memberi rasa aman kepada orang lain.
- Lisan lebih berbahaya daripada senjata jika tidak dijaga.
- Meninggalkan dosa adalah bentuk hijrah yang terus berlangsung sepanjang hidup.
- Akhlak mulia merupakan buah dari iman yang benar.
- Kesempurnaan Islam tampak pada hubungan baik dengan Allah dan dengan sesama manusia.
Penutup
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Di zaman media sosial, menjaga lisan juga berarti menjaga tulisan, komentar, unggahan, dan pesan yang kita kirim. Jangan sampai jari-jari kita menjadi sebab tersebarnya fitnah, kebencian, atau penghinaan. Marilah kita menjadikan hadis ini sebagai pedoman hidup: menjadi muslim yang kehadirannya membawa keamanan, ketenangan, dan kasih sayang bagi orang lain.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang mampu menjaga lisan, tangan, hati, dan seluruh anggota tubuh dalam ketaatan kepada-Nya.
Doa
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَلْسِنَتَنَا، وَطَهِّرْ قُلُوبَنَا، وَاحْفَظْ أَيْدِيَنَا عَنْ ظُلْمِ عِبَادِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْإِيمَانِ وَالتَّقْوَى.
Artinya:
"Ya Allah, perbaikilah lisan kami, sucikanlah hati kami, jagalah tangan kami dari menzalimi hamba-hamba-Mu, jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang saleh, dan wafatkanlah kami dalam keadaan beriman dan bertakwa."
Āmīn yā Rabbal 'ālamīn.
Post a Comment